Meneguhkan Modernitas

post time 28. November 2017 member Fuad.Has

Modernisasi adalah ciri khas yang melekat kuat pada persyarikatan Muhammadiyah. Muhammadiyah didirikan sebagai pendukung perjuangan Kyai Haji Ahmad Dahlan dalam mencerahkan masyarakat yang tengah dalam kejumudan. Muhammadiyah menjadi pelopor pergerakan islam modern yang menawarkan gagasan perubahan dan kemajuan.

Latar belakang lahirnya Muhammadiyah disebabkan pertama oleh penghayatan mendalam Kyai Haji Ahmad Dahlan dalam menelaah kandungan al-Quran dan Sunnah Rasul dengan kaca mata modernitas. Kecuali itu, secara faktual saat itu tengah berkembang, di kalangan umat islam, ketidakmurnian pengamalan islam sebagai akibat tidak dijadikannya al-Quran dan as-Sunnah sebagai satu- satunya sumber ajaran agama islam. Kedua adalah tekanan ideologis dari kolonial barat dengan misi kristenisasi.

Modernitas

Dengan demikian, watak gerakan tajdid menjadi bagian tidak terpisahkan dari dakwah islam amar ma’ruf dan nahy mungkar di semua bidang kehidupan. Tajdid dalam Muhammadiyah memiliki dua sisi makna pembaharuan. Pada satu sisi, pembaharuan memiliki makna pengembalian kepada aslinya. Prinsip ini berlaku pada persoalan akidah dan ibadah yang telah memiliki sandaran yang jelas, yakni al-Quran dan as-Sunnah. Sementara di sisi lain, pembaharuan juga bermakna modernisasi. Sasaran dari prinsip ini adalah hal- hal yang tidak memiliki sandaran jelas, seperti metodi, strategi, taktik, teknik dan lain yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi ruang dan waktu.

Modernisasi yang telah melekat pada gerakan Muhammadiyah tersebut pada gilirannya juga mengalami gugatan. Masihkah Muhammadiyah dapat dikatan sebagai gerakan islam modern yang teguh dengan prinsip kemajuan serta mengejawentahkan manajemen dan pengelolaan organisasinya secara modern.

Menurut rektor UMM, Muhadjir Effendi, label modern Muhammadiyah yang berkembang saat ini hanyalah sebatas pada istilah untuk membedakan dengan organisasi yang memiliki label tradisionalis. Dengan kata lain, modernisasi Muhammadiyah telah mengalami erosi spirit dan menjadi sekadar jargon sematan. Padahal, masih menurut beliau, modernisasi harus identik dengan semangat kemajuan yang tampak pada praksis gerakan ketika menjadi pelopor perubahan masyarakat.

Tesis ini tampak ekstrim tetapi cukup relevan ketika kita melihat betapa sudah jarangnya kita memproduksi ide- ide serta gagasan teknis yang banyak menjadi kiblat bagi masyarakat. Justru yang terjadi sering sebaliknya, seringkali kita mengikuti gerakan- gerakan kreatif organisasi lain dalam beberapa bidang- bidang kehidupan, seperti pendidikan, ekonomi kreatif, seni budaya atau bahkan di bidang teknologi informasi.

Kebesaran infrastruk organisasi Muhammadiyah tampaknya, pada sisi tertentu, menjebak organisasi kita pada kondisi yang lambat dalam bergerak. Dalam era modern yang semakin cepat dan kreatif ini, Muhammadiyah tampak kelabakan untuk mengikuti irama gerakan organisasi lain yang jauh lebih muda dan kecil dalam menjawab kebutuhan masyarakat. Sementara itu, persolaan konsolidasi organisasi terus membelit dan menyita kerja- kerja organisasi.

Menggugat relevansi label modern terhadap pada saat ini memang sangat relevan. Meskipun, jika kita membandingkan persyarikatan ini dengan organisasi sosial islam besar yang eksis saat ini , Muhammadiyah masih dapat kita katakan paling mendekati idealnya sebuah organisasi modern. Akan tetapi, sudah cukupkan subtansi kemodernan birokrasi Muhammadiyah yang seperti ini saja? Tentu tidak, masih banyak sisi organisasi yang perlu kita perbaiki untuk memenuhi kriteria organisasi sosial yang modern. Mentari pada edisi kalai ini akan memotret relevansi modernisasi Muhammadiyah pada sisi tata kelola organisasi dan birokrasi Muhammadiyah.

Category Gerakan Sosial | 0 Kommentare »
   

Long Life Education is powered by WordPress
Theme is Coded&Designed by Wordpress Themes at ricdes